Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Mei 2009

KUE BALOK

Bila mendengar ”balok” yang terbayang oleh kita adalah sebuah kayu panjang berbentuk kubus. Tapi di daerah Babakan Lor, Kecamatan Cikedal Kabupaten Pandeglang, ”balok” adalah nama sebuah penganan/kue yang terkenal nikmat. Disebut balok karena kue ini seperti balok kayu yang digunakan sebagai bantalan rel kereta api.

Bahan pembuat kue balok ini hampir sama dengan membuat ”getuk lindri”, hanya prosesnya saja yang sedikit berbeda. Kue balok dibuat dari ubi ketela pohon (dangdeur/sampeu dalam bahasa Sunda), kemudian dibuang kulitnya sampai bersih dan dicuci, lalu dikukus hingga empuk/lunak. Proses berikutnya, ditiriskan lalu ditumbuk menggunakan lesung sampai benar-benar halus dan diberi garam untuk memberi rasa gurih. Setelah halus, dicetak dan dipotong-potong menyerupai balok kayu. Kue ini biasanya disajikan dengan bumbu serundeng, yakni kelapa parut yang diasang kemudian ditumbuk halus sampai mengeluarkan minyak.

Adalah Sariman dan Hj. Jamsiah pasangan pemilik kedai atau warung kue balok yang lezat ini. Menurut mereka untuk mendapatkan kue balok yang lezat tidak ada resep khusus, hanya dibutuhkan kesabaran pada saat mengolahnya, jangan berhenti sebelum adonan menjadi kalis (tercampur rata). Pasangan yang telah dikarunia enam orang anak ini memulai usahanya pada tahun 1985 sebagai sebuah usaha keluarga.

Pada hari libur omzet kedai Pak Sariman bisa mencapai sekitar satu juta rupiah perhari atau antara 25-30 juta rupiah perbulan. Pada hari biasa rata-rata penghasilan kedai ini sekitar atau 500 ribu rupiah perhari.

Pembeli biasanya adalah langganan yang sudah sering mencicipi lezatnya kue Balok Pak Sariman. Tetapi ada juga yang berasal dari Bandung dan Jakarta. Bahkan menurutnya beberapa pejabat era orde baru pernah menyambangi dan mencicipi kelezatan kue balok ini, sebut saja seperti Pak Harto (mantan Presiden RI) Harmoko (Mantan Menteri Penerangan era Orde Baru) dan beberapa pejabat penting lainya, termasuk Bupati.

Lokasi tempat usahanya, sekaligus sebagai tempat tinggalnya sangat strategis, persis di tepi jalan raya Pandeglang-Labuan. Hingga tak sulit bagi siapa pun yang ingin mencoba enaknya jajanan ini.

EMPING MENES

Hampir semua orang mengenal emping, karena ‘kerupuk’ yang terbuat dari biji melinjo yang ditumbuk hingga tipis ini dapat ditemukan dimana-mana. Tetapi Emping yang dihasilkan dari Menes, salah satu kecamatan di Kabupaten Pandeglang, berbeda dengan emping yang dihasilkan dari daerah lain pada umumnya. Selain rasa yang renyah karena pengolahannya, faktor kondisi tanah daerah Pandeglang umumnya memiliki unsur hara yang tinggi sehingga menghasilkan buah melinjo dengan kualitas baik. Bila diolah menjadi emping akan menghasilkan emping yang beraroma khas dan berkualitas tinggi.

PD. Sari Jaya Group, yang didirikan pada tahun 1956 oleh H. Jasari (alm), adalah Perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan dan penjualan Emping. Perusahaan ini terletak di Kampung Bojong Canar, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, kurang lebih 31 kilometer dari kota Pandeglang ke arah Labuan. Perusahaan ini memproduksi olahan melinjo menjadi emping dan Ceprek/keceprek (ceplis). Ada 3 rasa yang dapat dinikmati : manis, pedas, dan gurih.

Menurut Hasan, salah seorang anak Haji Jasari, penerus usaha emping ini, kualitas emping dipilah menjadi 4 tingkatan berdasarkan hasil penyortiran buah melinjo yang diterima dari pengrajin emping hasil binaan perusahaan tersebut. Harga bervariasi, berdasarkan kualitas emping. Kisaran harga antara 25 ribu rupiah sampai 28 ribu rupiah perkilogram, sedangkan untuk Ceplis (keceprek) sekitar 27 ribu rupiah sampai dengan 35 ribu rupiah. Hasil produksi PD. Sari Jaya Group dapat ditemukan di pasaran dengan Merek Cula Satu, dikemas dengan wadah plastik atau memakai Toples. Tapi yang paling dicari oleh pembeli adalah Naga Emping atau Teng-Teng/Ting-Ting Emping. Promosi emping ini telah sampai ke Singapura, Malaysia, Perancis, Belanda, Taiwan. Cina, Vietnam, bahkan India.

Bagi yang menyukai penganan emping ini, agar tidak menimbulkan asam urat, Pak Hasan memberikan tips, yakni dengan sering meminum jeruk nipis.

OTAK OTAK

Banten memiliki aneka ragam kuliner yang luar biasa banyaknya. Salah satunya adalah otak – otak. Otak-otak merupakan penganan khas daerah yang berada di sekitar pantai. Jenis ini adalah salah satu bentuk pemanfaat potensi sumber daya alam berupa ikan yang melimpah, sehingga dapat memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat setempat. Labuan – Pantai Carita dan sekitarnya adalah salah satu daerah yang memiliki makanan jenis ini. Otak-otak dari Labuan sudah terkenal kelezatannya sampai keluar wilayah Banten.
Teksturnya yang lembut karena terbuat dari ikan Tenggiri yang diadu
k merata dengan tepung tapioka (aci), santan, bawang putih, merica, gula pasir dan garam, serta aroma yang timbul dari daun pisang -sebagai pembungkusnya- terbakar diatas arang akan menimbulkan aroma yang sangat menggugah selera. Selain sebagai pendamping nasi, otak-otak kebanyakan dimakan tanpa nasi dengan sambal kacang yang diasang dan ditambah bumbu lain, penyajiannya bisa dicocol atau ditaburkan diatas piring.
Sebut saja Ibu Ijah, wanita berputra dua ini telah 3 tahun menggeluti usaha pembuatan otak – otak. Kiosnya tepat berada di sebelah warung kue balok Pak Sariman. Tepatnya di Kampung Margaluyu Babakan Lor, Kecamatan Cikedal Kabupaten Pandeglang. Bermula dengan menggunakan modal sendiri perempuan ini mencoba membuka warung kecil-kecilan. Dalam sehari Ia bisa menghabiskan 10 kg bahan mentah otak-otak yang dijual dengan harga Rp. 2000,- perbuah. Omzetnya mencapai Rp. 300.000/hari. Selain lezat, otak-otak buatan Bu Ijah ini memiliki ukuran yang cukup besar dibandingkan dengan otak-otak lain pada umunya.